Kamis, 04 Oktober 2012

Naskah Lakon BERANAK ANJING


Naskah Lakon
BERANAK ANJING
Karya : Rori Maidi Rusji


Pelaku : Ujang (abak ),  Nian (amak), Alam, Bu Buyuang, Gadih, Basri







 (di mulai oleh sebuah dendang saluang)

Duduk santai di kursi buatan sendiri di depan pondok sawah, sambil memakan hidangan dari istri
Dimulai dengan percakapan antara Ujang dengan Nian.
(di iringi bunyi bansi)
BABAK 1
Nian  : Setelah panen tahun ini, bagaimana kalau kita garap lagi petak sawah yang empat di ujung uda..
Ujang : Sudah lah diak,sepuluh petak ini saja sudah cukup untuk makan kita
Nian : selalu hanya untuk makan kita yang uda pikirkan, bagaimana untuk belanja alam
Ujang  : untuk itu kan sudah ada uang dari penjualan hasil kebun kita
Nian : iya, itu sudah barang tentu uda…tapi…
Ujang : tapi apa…? Ingin membelikan alam motor…? Seperti teman – temannya yang lain……? Ingin membunuh anak kita dengan robot jepang itu…?
Nian : bukan begitu uda, tidak kah uda iba melihat alam yang selalu jalan kaki ke sekolah..? sedangkan temannya yang lain? Punya motor ke sekolah,. adiak takut uda, nanti alam malu dan tak ingin sekolah lagi
Ujang : uda mengerti itu diak, tapi uda agak ragu sebenarnya yang ingin beli motor ini adiak atau si alam ? masalahnya alam tidak pernah minta di belikan motor sama uda,selalu adiak yang bersikeras ingin beli motor.
Nian : ya sudah lah, kalau uda tidak mau belikan motor untuk si alam
Ujang : tu kan, kenapa adiak yang merajuk…?
Nian : sudah lah uda, makan saja nasi itu jangan bicara lagi. Adiak tidak mau membahas itu lagi…sudah cukup…
Ujang  : kalau alam mau, pakai saja sepeda ontel milik uda itu dulu. Nanti kalau kita punya rezeki berlebih kita bicarakan lagi
Nian : selalu begitu…kalau rezeki lebih, besok kalau rezeki berlebih uda pasti beli anjing lagi. Untuk teman si lupak lah, untuk penjaga sawah lah, atau untuk penjaga kebun. Selalu itu alasan uda setiap punya uang banyak.
Ujang  : itu kan untuk kepentingan kita juga
Nian : iya itu kebutuhan kita…kita sangat membutuhkan anjing, sangat membutuhkan sekali
Ujang  : kenapa adiak marah?
Nian : kenapa adiak tidak marah, uda lebih sayang pada anjing uda daripada pada anak sendiri
Ujang  : sudah lah, uda ingin melanjutkan bekerja lagi (sambil berjalan keluar )
 (Datang alam pulang dari sekolah)
Alam : assalamualaikum mak….
Nian : waalaikumsalam……sudah pulang kau rupanya alam, kenapa tidak kau ganti pakaian sekolah ke rumah dulu..?
Alam : tadi saya sudah dari rumah mak, perut saya lapar. Dirumah tidak ada nasi, di buka periuk yang ada hanya bekas nasi kemaren yang sudah bercampur air.
Nian : ya sudah, tunggu di sini sebentar dulu. Amak ambil nasi ke tempat abak kau bekeraja dulu.
Bu ujang berjalan keluar panggung
Sambil menunggu bu ujang mengambil nasi lewat  Gadih dengan bu buyuang.
Gadih : siang alam…. Kenapa melamun? Muka kamu kok pucat begitu?
Alam : eh, gadih. Saya lagi menunggu amak membawakan nasi
Bu buyuang : dih, mak berangkat duluan ya. Kasian ayah mu belum makan…
Gadih : ya mak, nanti gadih susul..
Bu buyaung beranjak keluar
Gadih : kenapa kamu pulang ketika mata pelajaran sejarah tadi?
Alam : malas..
Gadaih : malas kenapa?
Alam : kenapa kita harus pelajari itu, saya kurang percaya pada sejarah. Apalagi sejarah bangsa kita yang tidak jelas, kerajaan antah berantah yang mereka bicarakan. Ntah benar ada ntah tidak
Gadih : katanya dalam buku kan banyak bukti bukti yang menyatakan itu ada
Alam : bukti apa ? candi ? prasasti , orang sekarang juga bisa membuat candi seperti itu. Setelah candi dibuat, di ciptakan dongeng tentang kehebatan seseorang raja yang tidak terkalahkan oleh orang dari belahan dunia manapun…ah…ah….bosan..membosankan
Gadih : katanya dalam buku pelajaran tidak ada seperti itu alam
Alam : bodohnya kamu gadih, terlalu bertuhan kepada buku. Memangnya ada buku buatan tuhan yang terjamin kebenarannya selain kitab – kitab berisi wahyu tuhan yang sama – sama kita yakini ?. buku itu buatan manusia gadih, kamu sendiri tentu lah tahu sifat manusia tak akan berbuat sesuatu kalau tidak menguntungkan pada dirinya..
Gadih : enak saja kamu bilang saya bodoh, kamu tu yang sok pintar, keras kepala, egois….
Alam : terserah saya, dari pada kamu sering membangga –banggakan juara kelas. Untuk apa juara kelas mu, untuk ketenaran, atau untuk melanjutkan pendidikan ke universitas terkenal ? ingat gadih, kita orang miskin. Hasil sawah yang sepuluh petak tidak akan bisa menyekolahkan kita ke perguruan tinggi.
Gadih : kan ada beasiswa untuk yang kurang mampu….!!!
Alam : ya, untuk orang yang kurang mampu. Bukan untuk orang miskin seperti kita
Gadih : maksud perkataan mu apa, saya kurang mengerti ?
Alam :ya, beasiswa kurang mampu itu untuk orang yang kurang mampu melihat orang orang miskin seperti kita. Untuk orang orang yang tidak mampu bersikap jujur kepada dirinya sendiri dan orang lain.
Gadih : saya semakin tidak mengerti..
Alam : kamu kenal si agus anak Wali nagari kan..? apakah dia menurut kamu kurang mampu ? kenapa dia dapat beasiswa kurang mampu dari pemda ?
Gadih : saya mengerti, karena wali nagari tidak mampu bersikap jujur kepada orang miskin. Terpaksa dia menganggap keluarganya kurang mampu.ha…ha….kamu betul…..tapi  menurut saya tidak salah juga kalau kita mencoba meminta beasiswa itu alam….
Alam : silahkan, kan tidak ada aturan dari undang – undang Negara kita yang melarang warganya meminta beasiswa. Di anjurkan malah., tapi saya tetap pada pendirian saya. Karena saya orang miskin bukan orang peminta – minta.
Gadih : terserah kamu saja manusia idealis.
Alam : kenapa kamu marah, terserah saya. Pikiran ini pikiran saya, saya kan tidak pernah  menyuruh kamu ikut pada pemikiran saya.
Gadih : terserah….terserah…..saya pergi dulu, lebih baik menolong orang tua saya di sawah dari pada mendengar ocehan kamu yang tidak penting.
Gadih berajalan keluar

BABAK 2
(suasana dalam rumah)
Duduk dua orang pria pak ujang dan basri, di malam hari setelah magrib.
Ujang : ibuk…..ibuk……tolong buatkan air  Kopi dua gelas, bapak ada tamu.
Basri : ndak usah repot – repot  jang, saya Cuma sebentar.
 Ujang  : tidak apa – apa, kamu kan belum pernah mencoba kopi buatan istri saya.
Basri : ha..ha..ha….tu kan kamu mulai lagi, memang saya tahu dia sekarang sudah jadi istri kamu. Tapi dulu saya pernah juga mencoba kopi buatan istri kamu, jauh sebelum kamu mencoba kopi buatannya.
Ujang  : ha…ha..ha……tapi saya kan orang yang mendapatkannya, kalau saya tidak mendapatkannya mungkin kamu tidak akan berpakaian rapi seperti sekarang ini.
Basri : iya betul……kalau saya menikahi istri kamu dahulu mungkin saya tidak akan pergi merantau dan hanya menggarap sawah seperti kamu sakarang ini.
Ujang : ya…ya…ya….tapi itu sudah menjadi kenangan masa muda kita kawan, kamu ingat janji kita dulu. Siapapun yang tidak bisa mendapatkan dia harus merelakan dengan ikhlas.
Basri : tentu…saya tak akan lupa itu.

Datang Bu ujang  menbawa dua cangkir kopi
Nian : oh….ada tamu dari Jakarta rupanya
Basri : masih ingat kamu dengan saya rupanya.
Nian : tentu, saya tidak akan lupa. Apa kesibukan kamu sekarang bas?
Basri : ya..masih seperti yang dahulu
Nian : lancarkan bisnisnya di Jakarta?
Basri : Alhamdulillah, tapi rencananya untuk dua tahun ini saya ingin menetap di kampung dulu. Karena bisnis yang di Jakarta saya suruh si iman yang mengurusnya.
Nian : sudah berapa anak mu sekarang, kenapa tidak bawa istri kamu ke sini?
Basari : hahahahahahahahha……hahahahha…….perkataan itu serasa menyindir saya.
Nian : kenapa?
Basri : saya belum punya istri…
Ujang  : ya basri belum punya istri, sudah cukupkan ceritanya adiak ?
Nian : iya..iya…..saya kebelakang dulu ya basri….
Bu ujang keluar
Basri : kenapa muka mu berubah….hahahahahha…kamu cemburu ya..?
Ujang  : ah…sudahlah, jangan bahas itu lagi. Minum dulu kopinya.
Basri : anjing kamu yang berdiri di pintu tadi satpam kamu ya ?
Ujang  : oh..lupak maksud kamu? Dia satpam yang sangat patuh kepada saya, tidak pernah membuat malu di arena perburuan.
Basri : masih candu berburu kamu rupanya?
Ujang  : ya begitulah….tidak bisa di hilangkan.
Basri : bukan tidak bisa di hilangkan, tapi kamu yang tak mau menghilangkan. Apa pun candu yang ada dalam diri kalau kita punya niat untuk meninggalkannya pasti kita bisa, sama hal nya dengan merokok, kata orang sangat susah berhenti merokok. Tapi, lihat saya sekarang sudah bisa berhenti merokok kan? Semuanya tergantung pada niat dalam hati.
Ujang  : ya…saya mengerti itu. Tapi itu lah saya, tak akan pernah berniat ingin meninggalkan candu berburu  babi ini.
Basri : iya..iya…..tak apa.  kemaren saya juga singgah di rumah Si yus, saya lihat anjingnya lebih besar dari pada anjing kamu.
Ujang : oh anjing si hitamnya..ya..ya….itu selalu jadi raja di perburuan biasanya
Basri : tapi dia mintak saya untuk mencari orang yang mau membeli anjingnya dengan harga empat juta, saya lansung kaget, mahal sekali dia menjual anjing.
Ujang : hei…basri, itu harga yang murah untuk anjing seperti si hitam. Anjing yang sangat tangguh dan selalu membuat si Yus  berbusung dada di arena perburuan.
Basri : wah hebat sekali kedengaran anjing yang satu itu.
Ujang : ya..sangat hebat, lebih hebat dari pada anak saya . anak saya tidak pernah bisa membuat saya bangga di tengah masyarakat.
Basri : hahahahahah……terlalu sempit kamu berpikir ujang…..!!! anjing kan hanya bisa membanggakan majikannya di dunia perburuan, bukan di masyarakat nagari.
Ujang  : terserah, yang penting anjing saya si lupak lebih saya sayangi daripada anak saya. Karena dia selalu membuat saya bangga setiap berkumpul dengan teman – teman saya. Tapi anak saya si alam, hanya bisa membuat saya selalu datang kesekolah karena ulah kenakalannya.
Basri : dua puluh tahun saya di rantau, dan pulang kembali ke kampung. Tapi hanya menemukan teman saya yang sudah sesat oleh anjing, malang sekali dirimu kawan….
Ujang : jaga mulut mu basri,
Basri : masih tidak berubah juga sifatmu ternyata  ujang. Kamu akan berpikir selalu benar, tanpa berpikir lebih luas. Saya tidak pernah menyangka kamu akan seperti ini, anjing lah yang akan membunuh mu ujang….
Ujang  : sifat kamu yang tidak pernah berubah, selalu menasehati orang dengan gaya mu yang sok pintar itu.
Basri : terserah kamu lah bapak keras kepala, kalau kamu tidak iba dengan keluargamu. Menurut saya sudah sangat beruntung hidup dengan istri yang penurut dan tidak banyak menuntut..
Ujang  : sudah cukupkah ceramah mu orang pintar..?
Basri : dasar pria berkepala batu, terserah kamu saja lah.  Hari sudah malam, saya mau pulang dulu tak ada gunanya berbicara dengan dengan kamu.
Ujang  : lebih cepat lebih baik manusia penceramah.
BABAK 3
Dalam rumah, pagi menjelang melakukan aktivitas bekerja dan sekolah, duduk di depan alam sedang sarapan dan ujang minum teh telur
Ujang : sudah siap teh telur utuk uda nian…?
Nian : Tunggu sebentar uda..
Ujang : sudah lah makan kau alam, ingat anjing mu belum makan. Tak kasihan kamu melihat anjing mu belum makan..?
Alam : perut saya belum kenyang bak, abak selalu begitu. Lebih mementingkan anjing dari pada saya.
Ujang : ooo….jadi itu yang di ajarkan gurumu disekolah..? untuk melawan kepada orang tua mu..? iya alam ?
Alam : kenapa guru saya yang di salahkan bak…?
Ujang : sudahlah, jangan bicara lagi kau. Saya gampar kau nanti.
Nian : apa – apaan ini uda….? Belum tinggi matahari sudah bertengkar…?
Alam : abak ini yang mulai mak, selalu anjing yang dia manjakan…!!!
Ujang : untuk melawan kepada saya anak ini kau sekolahkan nian..? tidak dia pikirkan berapa uang yang dia habiskan tiap hari untuk kesekolah.\
Nian : alam, tak baik kau melawan abak mu. Berdosa kau nak…uda begitu juga, selalu anjing uda yang uda pikirkan, untuk makan anjing itu kana da nasi sisa kita setiap pagi. Apa belum cukup telur separoh masak itu untuk anjing uda setiap pagi, alam saja tidak pernah dapat makanan seperti itu tiap pagi.
Ujang : amak dan anak sama saja, tidak mengerti berapa pentingnya anjing ini dalam kehidupan saya. Anjing ini yang selalu membuat saya bangga di arena perburuan.
Alam : sudah…sudah….saya berangkat kesekolah lagi. (Sambil berlari keluar)
Nian : uda, kenapa uda selalu begitu kepada alam.
Ujang : si alam itu yang anak durhaka, selalu melawan pada orang tua.
Nian : ya sudah lah uda, minumlah air itu dulu, tenangkan pikiran uda dulu uda.
Ujang : (minum air) ahhhh…..enak sekali the telur buatan adiak pagi ini.
Nian : uda kalau sudah merayu ini pasti ada maunya.
Ujang : bukan begitu adiak kanduang yang uda cintai di dunia ini, lusa uda mau pergi berburu ke nagari sebelah, tapi nampaknya lupak kurang bersemangat akhir – akhir ini.
Nian : kalau si lupak sakit, janganlah uda paksakan dia untuk ikut di perburuan. Kalau uda tidak ikut berburu lusa uda tak akan mati di buatnya. lagi pula lusa kita kan mau menyabit sawah yang sudah masak di petak dekat sawah pak buyuang.
Ujang : buak itu maksud uda adiak sayang, tapi….
Nian : tapi apa uda..?
Ujang : begini adiak kanduang ambo nan ambo cintoi, tadi malam uda mendengar dari basri. Siyus mau menjual anjingnya si hitam seharga empat juta uda.
Nian : apa uda? Mau beli anjing lagi….? Saya tidak rela uda. Sumpah say tidak rela
Ujang : kau tidak akan mengerti nian…anjing itu kan…..
Nian : iya, anjing itu kan teman uda, istri uda, anak uda…
Ujang : anak sama amak sama saja, sama keras kepala.
Nian : uda yang keras kepala, tidak ingat uda waktu alam masuk SMA. Kata uda taka da uang untuk bayar uang masuk sekolah, tapi setelah itu ada beli anjing yang sangat mahal. Sekarang di saat kebutuhan keluarga sangat banyak uda masih berpikir untuk beli anjing lagi, sumpah mati saya tidak rela uda…tidak rela.
Ujang : terserah saya, uang itu kan uang saya. Hasil jerih payah saya, mau saya belikan ke anjing terserah saya.
Nian : dasar lelaki kepala batu…
Ujang : ( menampar nian) dengar nian, sampai kapanpun kamu tak akan bisa melarang saya untuk beli anjing. Itu hobi saya, asalkau tahu sajaanjing itu lebih membuat saya bangga dari pada anak yang kau lahirkan itu…
Nian : astagfirullah uda….saya sudah cukup sabar uda, sekarang tinggallah uda sendiri di rumah ini. Hidup lah uda dengan anjing uda, saya minta cerai hari ini juga. Uda tidak akan mau berubah lagi, sudah tidak sanggup lagi saya hidup dengan lelaki yang keras kepala seperti uda. Saya akan pulang ke rumah amak saya, tak sudi saya punya suami seperti uda.(sambil berjalan keluar)
Ujang : asal kau tahu saja nian, dulu saya tidak pernah memaksa kau jadi istri saya. Dasar si bunian manusia hutan kau.
Nian duduk sambil menangis mengenang untung hidup yang dia alami depan pondok sawahnya
Nian : malang sekali rasanya, saya dapat suami yang hobi berburu babi. Serasa beranak anjing saya selama ini, setiap pagi selalu lupak makan dengan telur separoh matang. Anak kandung yang lahir dari janin saya dari kecil tidak pernah makan telur separoh matang, ahhh……sudahlah tidak ada guna saya sesali ini sudah suratan takdir kehidupanku yang malang.


Lampu mati
( SELESAI)


  

DENDANG
Untuk Mengiring Naskah

Hobi Baburu babi

Oi…dunsanak kasadonyo
Danglah curito hiduik urang nan lah gilo
Gilo ba anjiang jo baburu

Iduik sanang batinggakan dek candu bana
Anak kanduang barubah sayang
Dek ulah parangai gaeknyo surang
Disiko kami badendang
Bamain untuak bacurito-curito urang

Ondeh…baburu babi hobinyo laki
Indak mangana anak jo bini
Tapi iko hanyo curito untuak sanak inok – inoki
Kok ado kami manyingguang jan lah di agiah kami jo maki
Samto untuk mancubo untuak bacurito tantang hiduik nyo laki bini
Rusak rumah tanggo dek gara – gara hobi
Baranak anjiang kironyo kini…yo….yang laki baranak anjiang inyo kini….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar