Rabu, 01 Februari 2012

DI KESOREAN

Kamu,
Hanya sebatas simpang presiden.

Sedang aku,
Berbatas sepanjang khatib sulaiman.

Di sana,
Selalu kita bermandi tangisan mimpi.
Sesaat sore mulai bermadu senja hari.

Cerita itu, bukan batu.
Tapi bisa berbinalu dan berbalik membangun malu.


Kamu,
Bercengkrama sepanjang penyusuran aliran nama.
Sementara kita,
Belum begitu berbuah dari kunyah.

Besok, kita bercanda untuk melamar di perempatan damar.

28 jan 2012

Selasa, 17 Januari 2012

Kita Semacam Matematika


Semacam apakah dirimu sekarang,
mungkin saja dirimu sudah berbentuk garis semetris,
atau saja dirimu sudah semacam persimpangan yang strategis.

tak inginkah kau kembali menggambar sebuah jajaran genjang,
agar kita bercerita lagi seperti menduduki kehidupan di atas jenjang.
walau pun sudah agak usang, tapi akan kuat untuk sepasang.


sekarang kita sudah hampir seperti garis,yang membentang luas jarak khatulistiwa.
semacam rindu untuk bercengkrama seperti kita membuat sebuah gambar segitiga



(pencarian) : bawah tumit sampai ujung jejari kaki ibunda



untuk sajak

menulis dengan tinta fana di pemandangan fatmorgana,
seperdelapan  usia terpangkas untuk secarik kertas.
berpesan,
bersajak tak seperti bersujud nak.
begitu terpandang selembar sajadah berludah tak begitu basah,
seperti itukah pembeda agama dengan budaya.

sujud berupa sajak, sajak sudah jarang bersujud.
terdengar,
itukah agamamu sekarang nak.
begitu tertoleh kitab sujud dan kitab sajak,
seperti itu kau menggunakan hobi dengan mengabaikan nabi.

sudah saatnya bermalam dengan matahari untuk memintal bulan di esok pagi,
tergolek pesan ibunda,
buangkan pena tinta mimpi, agar dirimu terjauh dari secangkir kopi dan sakitmu di kemudian hari.
ibunda juga seorang pemimpi, tidak dengan pena tinta fana.
tapi untuk isi hati cita - cita luhur anaknya.
esok kemudian hari akankah terjemput pesan yang telah mendaun di ujung bibir ibunda.

buanglah penamu, sudah saatnya kau mematri pikiran untuk calon istri.
lekas pasangkan sepatu kulit  untuk mengeringkan peluh ayahandamu.
seperti tangis anak pengemis, begitulah tangisku.
tak akan mendurhakaimu, karena surgaku di bawah tumit sampai ujung jejari kakimu.

ulak karang, 25 November 2011

Memintal hujan



Berikan aku sobekan jas plastik bukan motif batik,
agar aku bisa belajar memintal hujan untuk menempuh jalan rumahmu.
Cerita hujan tidak akan membasahi jejak keringat kita,
karena keringat kita terlahir dari batu.

esok, bila kita telah berhasil memintal hujan.
biarkan lah guruh terus bernyanyi memberi maki untuk dicaci.

karena kau sahabat, bukan teman.
karena kau sohib, bukan karib.



ulak karang, 29 nov 2011

Sirompak



Setelah cibiran angin meraba bebuluan pundak,
datang " langang "  mengasuh pikiran setengah kosong.

Dengarkan aku di saat jarum jam lurus ke arah langit malam.

bebunyian " saluang "  mengantar pikiran ke arah keramat,
putaran  " gasiang " memulai ritual sakit hati.

dulu kau bagian masyarakat, sekarang kau hanya di sebahagian masyarakat.

mantera mengalun serupa pekik sakit,
nyanyian berirama tangisan duka manusia sengsara.
tak ada risau dosa untuk pembalas murka,
tak akan mengenal sebab untuk melepas akibat.

ulak karang, 3 Des 2011

SEBENTAR



untuk hari ini, bertenggerlah kau di sana dulu walau  sebentar
karena aku akan pergi untuk bermain dan berputar
kau anggap saja kau sekarang sedang bermain di dalam sangkar
ini untuk mengusung pikiran dalam hati agar akan selalu belajar untuk sadar
jangan ibaratkan tubuh akan selalu bermakna dan memekar
karena kata kata dan senyum palsu akan terus membawa ke arus ingkar

untuk hari ini, bertenggerlah kau di sana dulu agak seberapa waktu
karena aku akan pergi mencari ketertinggalan urat malu
kau anggap saja sekarang sedang bergelut di dalam kelambu
ini untuk mengajak pikran dalam saraf agar selalu merasa pilu
jangan ibaratkan tubuh akan selalu timbul rasa merindu
karena bibir akan selalu melandu irama duka dan sendu


untuk hari ini, berdiamlah kau di sana dulu barang beberapa menit
karena aku akan mencari beberapa wanita untuk bisa kau cubit
kau anggap saja sekarang rasa ingin membuka dan melilit
ini untuk memberi tubuh rasa nyeri dan sedikit sakit
jangan ibaratkan semua orang kaya itu akan selalu pelit
karena karma dan murka tuhan akan selalu akan memberi jalan yang rumit


ingatlah dunia akan selalu berputar
ingatlah hidup akan selalu berliku
ingatlah rasa adalah penyakit
ingatlah hati yang akan selalu ingin memberi semua yang baik,
Namun pikiran yang menghasutmu untuk memberi nafsu yang buruk...

Pendosa atau Tugas Mulia


berjejerlah di barisan paling depan karena itu adalah gerakan merah
jangan tetap terpaku di gerumunan pendusta dan penyerca
selesaikan dulu tugas yang paling mulia
agar birahimu menjadi sebuah rintihan yang membuat gairah
jangan hiraukan sebuah suara yang akan membuat perjuanganmu sumbang dan tak ter arah
mari angkat senjata untuk membuat sebuh manusia
yang paling mulia itu bisa menghasilkan manusia pengkritik dan perkasa

berjejerlah di barisan aling depan karena itu adalah gerakan merah
jangan tetap terpaku dengan celana dalammu yang bergelumur dosa
selesaikan dulu pekerjaan mulia yang kau punya
inganlah tentang hakikat dunia yang sementara
jangan munafik untuk menyebut tidak  suka
karea bagaimanapun itu lah arti sebuah surga dunia....

jangan menganggap pekerjaan malam itu dosa
bukankah itu ternikmati oleh manusia dewasa
menolong sesama manusia itu bukankah tugas yang amat mulia
sekarang terserah kau mau melihat dari sudut pandang yang mana...
yang terpenting bagi kita berpikirlah untuk mengatakan pekerjaan malam itu adalah menolong sesama manusia....